Sepatu Bolong, Hati yang Tangguh
Karya : Lesti Hastika, SE
Pemenang Lomba Menulis Cerpen Bulan Bahasa 2025 – Juara 1
Udara pagi di desa Baturetno masih basah oleh embun. Jalanan tanah yang becek seolah menjadi teman lama bagi langkah-langkah kecil Hanif setiap hari. Di pundaknya tergantung tas lusuh yang sudah dijahit berkali-kali oleh ibunya, dan di kakinya… ada sepasang sepatu robek yang solnya mulai terlepas. Terlihat jelas sepatu itu sudah tidak layak dipakai, telapaknya sudah hampir terlepas, tali sepatu nya pun sudah berganti dengan tali rafia berwarna kuning.
Namun Hanif tak pernah mengeluh. Ia tetap berjalan dengan cepat menuju sekolah. Ia sangat takut jika harus terlambat mengikuti pelajaran. Setiap kali melangkah, terdengar suara “plek…plek…” dari sepatu kirinya yang mulai kehilangan bagian bawah. Sepatu bolong yang harus terus melangkah. Terkadang teman-temannya menertawakan, tapi Rafi hanya tersenyum. Wajah mungkin saja bisa berbohong, namun hati siapa yang tau. Ia kerap kali bersedih jika teman-teman mengejek sepatu lusuh nya itu. “Kalau aku berhenti cuma karena sepatu,” katanya dalam hati, “bagaimana aku bisa menggapai cita-citaku?” ujar hanif didalam hati, berusaha menguatkan hati nya kembali. Mengembangkan senyumnya kembali.
Sesampainya di sekolah, Hanif segera menukar sepatunya di depan kelas agar tidak mengotori lantai. Bu guru Intan memperhatikan anak itu dengan haru. Ia tahu betapa keras perjuangan Hanif. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangga, dan ayahnya hanya seorang buruh harian lepas. Meski begitu, Hanif selalu duduk di barisan depan, mencatat setiap kata, memperhatikan dengan seksama penjelasan dari guru dan tak pernah absen. Walaupun hujan, ia tetap datang kesekoah dengan membawa mimpi dan sejuta harapan.
Suatu hari, hujan turun deras ketika jam sekolah telah usai. Hanif hanya menunggu di teras sekolah, menatap sepatunya yang semakin basah. Benang jahitan mulai terurai dan sol nya nyaris copot seluruhnya. Temannya yang Bernama Ahmad, mendekat sembari menatap sepatunya itu. “Nif, kenapa kamu enggak minta sepatu baru ke Ibumu”? tanya Ahmad dengan nada heran. Hanif hanya tersenyum “Ibu bilang, sepatu ini masih bisa jalan. Kalau masih bisa jalan berarti belum waktunya diganti.” Ujar Hanif tanpa rasa sedih. Ahmad terdiam. Ada sesuatu dalam kata-kata Hanif yang menancap dihati nya.
Suatu pagi, ketika Hanif berangkat sekolah, tali sepatunya tiba-tiba putus di tengah jalan. Ia berusaha mengikatnya lagi, tapi solnya ikut terlepas. Saat itu, hujan turun deras dan jalanan berubah menjadi lumpur.
Hanif menatap sepatunya yang nyaris hancur. Ia ragu, harus pulang kerumah atau tetap berjalan? Kalau pulang, ia pasti terlambat dan mungkin dihukum karena tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Tapi kalau tetap berjalan, sepatu itu bisa benar-benar rusak. Hanif menggigit bibirnya, lalu memutuskan melanjutkan langkahnya tanpa sepatu. Ia menggulung celananya dan berjalan kaki di jalan berlumpur, menentang dinginnya air hujan. Semangat siswa kelas 6 SD itu tidak pernah padam. Ketika ia sedih, ia langsung teringat dengan ayah dan ibunya. Mengingat susahnya perjuangan ayah dan ibu selama ini yang selalu mendukung ia agar tetap bisa sekolah dan belajar sama seperti anak-anak seusianya.
Sesampainya di sekolah, beberapa teman menertawakannya karena datang tanpa sepatu. “Wah, Hanif jadi anak kampung beneran!” kata salah satu temanya sambil tertawa. Namun Hanif menatap mereka dengan tenang. “Nggak apa-apa, yang penting aku tetap datang untuk belajar,” jawabnya dengan tenang sembari tersenyum tipis.
Bu Intan yang mendengar kejadian itu langsung menghampiri dan menenangkan Hanif. Di dalam hatinya, beliau menahan tangis bangga melihat keteguhan hati anak itu. Hanif Abdullah, ia betul…. itulah nama seorang anak laki-laki yang memiliki keteguhan hati. Anak laki-laki yang memiliki hati yang besar dan lapang untuk menerima dan mengendalikan diri saat menghadapi kesulitan dan musibah, yang akhirnya membawa kedamaian dan kebahagiaan untuk dirinya nanti.
Beberapa hari kemudian, saat upacara bendera, Bu Rina memanggil nama Hanif ke depan. “Hari ini, sekolah kita ingin memberikan penghargaan kepada Hanif, siswa yang menunjukkan semangat luar biasa.” Ujar Bu Intan dengan penuh semangat. Seluruh murid dan guru-guru yang hadir bertepuk tangan. Hanif maju dengan wajah merah menahan haru. Matanya berkaca-kaca. Bu Intan lalu menyerahkan sebuah kotak kecil. Ketika dibuka, di dalamnya ada sepasang sepatu baru berwarna hitam mengilap.
Hanif menatap sepatu itu lama sekali. Air matanya jatuh, bukan karena kesedihan. Bukan karena luka, atau lelah menghadapi hidup yang keras. Air matanya jatuh, bukan karena sedih, tapi karena bahagia dan bangga. Air mata itu bukan tanda kelemahan. Melainkan bukti bahwa ia telah berani bertahan. Bukan tangisan duka, melainkan ungkapan jiwa yang telah menang melawan putus asa. Tetes air mata itu lahir dari dada yang penuh rasa syukur dari hati yang akhirnya tahu, bahwa setiap langkah kecil tak pernah sia-sia. Ia menatap hasil perjuangannya dengan senyum yang bergetar. Ingatan tentang jalan berlumpur, sepatu robek dan ejekan teman-teman terlintas seperti bayangan dibenaknya. Namun kini semua itu terasa indah. Ia memeluk sepatunya seolah memeluk semua perjuangan yang telah ia lalui.
Hari itu, Hanif belajar satu hal berharga: Bahwa Ketangguhan bukan berarti tidak pernah kekurangan, orang yang tangguh bukanlah yang selalu punya segalanya, tapi yang tetap semangat walau serba terbatas. Orang yang tangguh tidak mudah menyerah, meski sepatunya rusak, bukunya lusuh, atau hujan turun di jalan. Ia terus berusaha, karena tahu setiap langkah kecil bisa membawanya lebih dekat pada cita-cita. Ketangguhan adalah keberanian untuk terus melangkah, walau keadaan tidak selalu mudah. Itulah kekuatan sejati ,bukan karena tidak pernah kekurangan, tetapi kerena tidak pernah berhenti berjuang.
Dan sejak saat itu, setiap kali ia memakai sepatu barunya, ia tak lupa menatap sepatu lamanya yang masih tersimpan di rumah sebagai pengingat, bahwa langkah besar selalu dimulai dari keberanian menapaki jalan yang sulit.
Ikuti kegiatan kami melalui :
🔍 Website : https://kuttabdaarussalaam.com/
📷 Youtube : https://www.youtube.com/@kuttabdaarussalaam6235/video
📱Instagram :
https://www.instagram.com/yayasanzamzamwannakhla/
https://www.instagram.com/kuttabdaarussalaam_jogja/
https://www.instagram.com/kbhalimahassadiyah/
https://www.instagram.com/rbqdaarussalaam/
https://www.instagram.com/rumahbaca_daarussalaam/
Jazakumullah Khoir ☺🙏