Surat Cinta Untuk Ustadzah
Karya : Arastika Safitri
Pemenang Lomba Menulis Cerpen Bulan Bahasa 2025 – Juara 2
(Kisah ini tercipta dari kumpulan dialog iman para santri, pengalaman seseorang
dan dipadu dengan kisah non fiksi. Semoga Allah jaga iman kita dan Allah bimbig
kita semua)
Mentari Jogja pagi ini bersinar dengan redup, mendung menggantung berhias rintik
hujan yang bernyanyi di atas atap yang terbuat dari baja ringan. Aku berjalan menuruni
tangga yang terbuat dari kayu yang mulai berderit saat dilalui. Dari jauh terlihat santri
santri kecil Kuttab Awal 2 atau setara kelas 1 SD berhambur menyambutku dengan
senyum cerianya, membuat hati ini bungah seperti ada kupu-kupu berterbangan di
sekitarku.
“Ustadzah.. aku bawakan tasnya ya. Hehehe” ujar Ayu santri cantik yang bermata belok.
“Aku bawakan minum ustadzah, ini tinggal sedikit, aku isikan ya ust..” kata Syasya, ku
anggukkan kepalaku.
“Aku yang bawakan buku ustadzah yeey..” cuit Lana, gadis kecil yang ceria.
Kusunggingkan senyuman sambil mengingatkan mereka “Jazaakumullahu khoyr anak
anak.. hati-hati ya nak.. jalan yang kita lalui licin”
Terlihat beberapa anak cemberut karena tidak mendapatkan kesempatan melayani
ustadzah.
“Kalian jangan bersedih nak, ustadzah tetap sayang kalian kok”. Terlihat binar
di mata dan merekahlah senyum mereka.
Ya.. kurang lebih itulah pemandangan keseharianku. Namaku Asiyah Khairunnisa.
Orang-orang biasa memanggilku Ustadzah Asiyah. Aku adalah guru kelas iman di
Kuttab Daarussalaam. Sekolah kami memang sederhana, akan tetapi hal yang kami
ajarkan bukanlah hal yang sederhana. Kami adalah pengemban risalah Islam,
mengajarkan Qur’an dan adab untuk masa depan Islam yang gemilang.
Aku dan santriku menuju kelas Kuttab Awal 2 yang ada di lantai bawah. Kelas kami tak
bertembok, berhiaskan indahnya hamparan sawah yang memanjakan mata kami.
Merdunya gemericik kolam ikan pemisah antar kelas, selalu mengingatkan kami kepada
sungai-sungai yang Allah janjikan di surga-Nya.
“Ustadzah alhamdulillah do’anya Lana dikabulkan Allah lho ust” Ayu berkata dengan
lembut dan senyum hangat.
“Oh ya? Do‟a apa nak?”
“Lana mendo‟akan aku, supaya aku ujian Karimahnya dapat L (lancar), dan benar ust..
Allah kabulkan”. Lana pun tersenyum sembari berkata “Alhamdulillah Ayu. Selamat
ya”.
“Baarakallahu fiik Ayu.. Allah memang Maha Pengabul do‟a nak.. Do‟a itu bisa
langsung Allah kabulkan, bisa ditunda atau bisa diganti dengan yang lebih baik.
Alhamdulillah Allah telah kabulkan. Maka jangan bosan untuk saling mendoakan ya
nak”.
“Iya ustadzah” jawab mereka dengan kompak sambil mengangguk-angguk.
Dialog iman santri kecilku sungguh menjadi penyejuk hati ini. Betapa bahagianya
melihat tanaman iman yang kurawat mulai tumbuh dengan subur. Nikmat Tuhan Yang
Manakah Yang Kau Dustakan.
Kami memulai pelajaran kelas iman dengan do’a yang khidmad. Santri duduk dengan
rapi dan tenang mendengarkan ilmu yang disampaikan. Begitulah kami dalam
bermajelis ilmu. kami mendahulukan adab sebelum ilmu dan ilmu sebelum amal.
Waktu bergulir dengan begitu cepat. Tidak terasa tiga tahun berlalu. Di Kuttab
Daarussalaam, setiap tahunnya guru akan dirolling dalam mengajar. Takdir
mengantarkanku mengajar mereka kembali di kelas Qonuni 2 muslimah, setara dengan
kelas 4 SD. Kelasnya terpisah antara muslim dan Muslimah untuk menghindari ikhtilat
para santri yang beranjak tumbuh semakin besar.
“Anak-anak.. alhamdulillah kita kedatangan teman baru. Perkenalkan namanya Tea. Tea
ini pindahan dari Surabaya. Ustadzah harap kalian bisa berteman baik dan
membantunya apabila ada kesulitan.” Ujarku.
“Insyaa Allah ustadzah Asiyah”. Senyum
mereka memancarkan ketenangan yang menembus hati ini.
Aku yakin semua takdir Allah itu baik. Ternyata dari sinilah ujian itu datang. Ujian
memang kadang Allah berikan pada hal yang kita cintai. Aku mencintai dunia
pendidikan, maka disinilah Allah berikan ujian kepadaku.
Tea, santri baruku anak yang unik. Ia cukup pendiam dan suka menyendiri. Akan tetapi
diamnya sangat menghanyutkan. Karena lisannya sekali menjawab sangatlah tajam dan
bisa melukai hati.
Siang itu aku mengajak mereka untuk belajar tadabbur di luar Kuttab. Kami menggelar
tikar di kebun untuk menikmati birunya langit dan hembusan angin yang berbisik
meniup dedaunan pohon jati.
“Anak-anakku yang semoga dalam rahmat Allah. Dari
tadabur Q.S. An Naba’ 17 ini kita belajar bahwa kehidupan di dunia ini hanya
sementara. Manakala sangkakala ditiup oleh Malaikat Isrofil maka hancurlah dunia
beserta isinya atas izin Allah. Maka bersegeralah kita untuk menunaikan syariat Allah
tanpa pilih-pilih. Karena syariat agama kita bukanlah agama prasmanan yang bisa
dipilih.” Ujarku mengingatkan mereka.
“Baiklah karena kita sudah selesai belajar,
silahkan dikemasi dan kita kembali ke Kuttab untuk makan siang.”
“Alhamdulillah.. baik ustadzah.”
Dalam perjalanan pulang terdengarlah celetukan mereka “Panasnya ya Allah siang ini.”
Ujar Navi.
“Tidak boleh ngeluh hayo.. Lebih panas di akhirat lho matahari didekatkan
sama Allah.” Kata Ayu.
“Iya ya.. yaa Allah semoga besok kita dapat syafaat dari Rasulullah ya.” Sahut Lana.
“Aamiin.”
“Apaan sih lebay.” Sahut Tea dengan sinis. Ayu yang mendengar pun emosi. Ia meremas
tangannya dan berkata
“Hey dijaga lisannya ya, kalau tidak bisa bicara yang baik lebih
baik diam deh.” Ayu bicara pelan namun mengintimidasi sambil menghampiri Tea.
Tapi
ditahan oleh Syasya dan Lana. “Sabar Ayu.. sabar.. ayo baca ta’awudz.”
Seketika kugandeng Tea dan aku ajak dialog di kantor.
“Tea.. kau dan teman-teman
disini adalah saudara seiman, jangan saling menyakiti. Bicaralah yang baik atau diam
nak.”
Yang kuherankan ia tidak membantah sama sekali, bahkan selalu tersenyum
mendengarkan nasihatku. Namun kejadian serupa selalu berulang. Dan hal tersebut
membuat kelas kami kadang ricuh dan tidak kondusif. Ada juga yang menyarankan saya
untuk lebih keras dan tegas kepada mereka.
Aku selalu merenung di keheningan malam. Berkhalwat dengan Rabbku tercinta.
“Ya Allah.. Hambamu ini lemah sekali. Rasulullah yang Engkau cintai adalah orang yang
penuh kasih sayang kepada para sahabatnya, Maka mudahkanlah dan bimbinglah hamba
untuk mendidik mereka. Engkaulah pemilik hati mereka. Lembutkanlah hati mereka.
Hamba mencintai mereka.. maka cintailah mereka Yaa Rabb..” lirihku dalam hati.
Hari ini hari Jum’at. Pandanganku menyapu ke seluruh ruangan kelas.
“Anak-anak apakah ada yang tahu kenapa Tea tidak masuk kelas?”
“Tidak ustadzah.”
“Ya sudah nanti ustadzah hubungi orangtuanya. Sekarang silahkan buka buku sirah kalian.”
Aku merasa ada yang ganjil. Beberapa hari ini Tea sering sekali terlambat ke Kuttab.
Sikapnya pun semakin pendiam. Wajahnya sering terlihat sendu dan bengkak di pelupuk
matanya. Menandakan ada bekas tangisan di sana.
Untuk mengobati rasa penasaranku.
Aku pun mengarahkan motorku menuju ke rumah
Tea atas petunjuk Lana yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Terlihat rumah
kecil yang cat temboknya telah usang. Dari balik pintu renteng terdengar pekikan
seorang gadis kecil yang kukenal, Tea.
“Cukup bapak.. jangan sakiti ibu! Aku hanya ingin jadi penghafal Qur,an pak.. pingin
jadi lebih baik dan memberikan syafaat kepada keluarga kita.”
Suara Tea terdengar pilu dan bergetar.
“Halah opo iku. Kalo masih pengen sekolah kamu minta duit ke ibumu wae!” gertak
suara ayah Tea membahana. Terdengar pintu renteng terbuka dengan keras.
Keluarlah sosok garang bermata merah dengan bibir masih menggumam. Melihatku terpaku di
depan pintu, ia terdiam sejenak kemudian melanjutkan langkah gontainya.
Ibunda Tea yang melihatku mengusap airmata dengan punggung tangannya dan
bergegas menghampiriku.
“Assalamu‟alaikum ustadzah.. Maasyaa Allah sejak kapan
ustadzah datang? silahkan masuk. Maaf tempat kami begitu berantakan.”
Senyumnya tulus walau terlihat ada getaran di bibirnya, tangannya menuntunku untuk masuk ke
rumah beliau.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabaarakatuh. Saya belum lama kok ibu.” Aku
tersenyum dengan tulus kepada beliau.
“Tea. Ayo buatkan minum untuk ustadzahmu nak.” Tea beranjak menyalamiku dan
menghilang di balik kelambu usang berwarna merah.
“Ibu.. Maksud kedatangan saya kesini adalah untuk menanyakan keadaan Tea yang
akhir-akhir ini sering terlambat ke Kuttab, dan sudah dua hari ini Tea tidak masuk
sekolah tanpa keterangan. Apakah Tea baik-baik saja? Ataukah.. (aku berhenti sejenak
karena ragu hendak bertanya) ada kaitannya dengan kejadian tadi ibu?”
“Ustadzah mohon maaf sebelumnya. Jika ustadzah harus mendengar hal yang tidak
seharusnya didengar.” Tangan ibunda Tea menggengam kedua tanganku dengan erat.
“Tidak mengapa ibu.. semua kejadian pasti ada hikmahnya, dan pastinya banyak
kebaikan yang dimiliki ayahnya Tea yang saya tidak ketahui.”
Ujarku dengan tulus.
Bulir air mata jatuh membasahi pipi Ibunda Tea.
“Selama ini saya berjuang sendiri ustadzah. Tea lah yang selalu membantu saya
membanting tulang. Tiap sehabis shubuh Tea mengantarkan jajanan pasar buatan saya
ke pasar. Siang harinya sepulang sekolah ia pun punya tugas menggilingkan beras dan
singkong ke desa sebelah. Beberapa hari ini ia kehujanan dan demam ustadzah,
sepertinya ia kecapekan. Jadi mohon maaf jika Tea tidak masuk sekolah. Saya
sebenarnya kasihan, tapi mau bagaimana lagi.” Lirihnya.
Aku hanya mengangguk sembari tersenyum mendengarkan kisah beliau.
“Beberapa kali Tea terlambat juga karena sepeda usangnya sering kali rantainya lepas
utadzah.. jadi butuh waktu untuk memperbaikinya. Sampai tangannya belepotan hitam
semua.” Kilah Ibunda Tea.
“Kalau boleh tahu, pekerjaan ayahnya Tea apa ya bunda?” tanyaku penasaran.
“Ustadzah.. sebenarnya saya malu untuk mengatakannya. Bapaknya Tea tidak punya
pekerjaan tetap. Allah sedang uji kami ust.. ustadzah silahkan dinikmati teh hangatnya
dulu. Nanti kita lanjutkan lagi”
Beliau menyodorkan segelas teh tubruk yang
dihidangkan Tea. Setelah perbincangan Panjang, aku pun berpamitan pulang, karena
sepertinya Ibunda Tea sudah terlihat letih dan butuh istirahat.
Ternyata kabar tentang ayahnya Tea yang kasar dan suka memukuli istrinya bukanlah
hal yang baru. Ia adalah seorang pecandu minuman keras dan penggemar judi. Bahkan
tak segan ia mencuri uang tabungan Ibunda Tea demi memuaskan keinginannya untuk
minum barang haram tersebut. Kemarahan ayahnya Tea kemarin pun dipicu oleh Ibunda
Tea yang tidak memberikan uang, lantaran uangnya digunakan untuk membayar sekolah
Tea.
Sungguh kesabaran Ibunda Tea seluas samudera tak bertepi. Beliau hanya bisa
menasihati sebisa mungkin dan bermunajat kepada Allah. Beliau selalu berkhusnudzon
kepada Allah dan percaya bahwa takdir Allah selalu baik.
Di Kuttab
Aku menyambut hari-hariku di Kuttab dengan lebih semangat. Bagaimana tidak,
semua santriku begitu semangat ketika bermajelis ilmu. Apalagi Tea, ia begitu
menggebu menyelesaikan hafalan surah Al-Baqarah. Alhamdulillah Tea juga
mendapatkan keringanan biaya dari Kuttab, sehingga ia bisa melanjutkan sekolah tanpa
rasa khawatir lagi.
“Tea, alhamdulillah besok kamu ditunjuk untuk membacakan do’a ketika Tasmi’ Akbar.
Dipersiapkan dengan baik ya nak.” Ujarku sambil tersenyum.
“Insyaa Allah ust.” KataTea.
Siang harinya ada santri menghadapku mengungkapkan rasa protesnya.
“Ustadzah bukankah hal tersebut tidak adil? Dengan menyerahkan pembacaan do’a kepada santri
yang menurut saya adabnya kuranglah baik.”
Ayu mengatakan dengan sopan tapi dengan nada protes. Aku belum sempat menjawab namun santriku sudah berlari
menjauh dariku.
“Cobaan lagi kah ya Allah?‟ lirihku. Betapa uniknya dunia ini, dipenuhi
oleh manusia yang beragam isi hatinya.
Aku merasa hari itu badanku meriang. Tapi aku tetap ingin menemui para santriku di
kelas iman untuk berajelis ilmu. Hari itu kami tadabur Q.S. An Naba ayat 25 tentang
minuman para penghuni neraka yang ayatnya berarti “Kecuali air yang mendidih dan
nanah.”
Aku bawakan mereka segelas jus alpukad sebagai media yang menggambarkan warna
nanah, dan di akhir pelajaran kusampaikan.
“Nak.. ustadzah tidak mau sedikitpun
mencicipi minuman tersebut. Ustadzah sayang kalian. Kalian semua adalah anaknya
ustadzah walau tidak terlahir dari Rahim ustadzah. Ustadzah selalu mendoakan kalian
supaya kita bisa bersama-sama baik di dunia maupun di surga. Jadi yuk nak.. Jangan
ada dendam atau sombong di hati kita. Karena tidak ada orang sombong yang masuk
surga. Naudzubillah. Kita saling memaafkan ya.”
Badanku sepertinya tidak kuat menopang dan mata terasa panas karena demam yang
menjalar. Saat waktu makan siang tiba aku izin ke mereka untuk merebahkan badan di
lantai.
“Nak ustadzah izin rebahan disini ya, ustadzah sedang tidak enak badan.”
Beberapa saat kemudian ada empat santri menghampiriku.
“Ustadzah.. Ayu minta maaf jika Ayu salah ya ust.. Ayu sayang ustadzah. Ust.. ini ada tolak angin. Tadi aku beli di
warung belakang Kuttab.” Ayu menyodorkan dua bungkus tolak angin cair kepadaku
dengan senyum manisnya. Diiringi Tea, Lana dan Syasya yang membawakan minum
kepadaku. Betapa bahagianya aku, sepertinya Tea sudah mulai diterima para santri dan
mulai merajut persahabatan.
Beberapa hari ke depan adalah saatnya acara Tasmi’ Akbar. Ketika kami sedang Latihan,
terdengar kabar dari bagian TU yang memanggil Tea untuk segera pulang karena
ayahnya kecelakaan tunggal.
POV ayah Tea
Saat aku mendengar bahwa Tea masuk ke dalam daftar santri yang mengikuti
Tasmi’ Akbar membuat hatiku sungguh bahagia. Aku berencana memberikan kabar
gembira kepada neneknya yang berada di luar kota.
“Nak bapak bangga sama kamu. Meskipun bapak seperti ini, tapi bapak berharap kamu
menjadi penyejuk hati bapak dan ibu nak.”
Lamunku sambil mengendarai motorku.
Gerimis yang kulalui ternyata semakin deras turunnya. Tanpa aku sadari di depan jalan
yang kulalui ada pasir yang membuat jalan licin dan motorku oleng.
“Arrgggggh..”
kepalaku terbentur aspal dengan keras. Aku menggumam sebelum rasa sakit di kepalaku
membuatku tak sadarkan diri.
“Ya Allah jangan cabut nyawaku sebelum aku taubat ya
Rabb.” tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
Ayah Tea mengalami gegar otak, darah mengucur dari lubang telinga dan sempat
muntah darah. Tulang selangka dan tulang kakinya pun patah. Bahkan ia pun sempat
kehilangan memori jangka pendeknya. Beliau menjalani operasi dan dirawat di Rumah
Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta ditunggu oleh Ibunda Tea.
Ketika waktu tasmi’ tiba. Aku mendampingi Tea dan para santri. Acara berjalan dengan
sangat khidmad. Tea melafalkan hafalannya dengan Mumtaz dan membacakan do’a
dengan indah dan terasa sangat khusyu’.
Sementara itu, di waktu yang bersamaan. Ayah Tea tersadar dari masa kritisnya setelah
beliau bermimpi anak gadisnya sedang membacakan hafalan Qur’an-Nya dan
menyerahkan mahkota yang begitu indah kepadanya dan kepada ibunya. Cahaya putih
terang mengantarkannya untuk membuka matanya kembali. Sungguh mimpi yang indah
yang menghantarkan ayah Tea pada hidayah yang begitu mahal harganya.
Ayah Tea sudah sepenuhnya bertaubat kepada Allah Ta’ala. Apabila terdengar adzan
maka beliau bergegas ke masjid untuk menunaikan sholat. Beliau juga sudah memiliki
pekerjaan sebagai tukang amplas dan mengecat mobil di bengkel tetangganya.
Sungguh buah kesabaran ibunda Tea yang telah bertahun-tahun mendo’akan kebaikan
untuk suaminya tidaklah instan. Allah ingin kita selalu bersimpuh, merengek kepada
Nya untuk suatu hal yang sangat kita inginkan. Bukti bahwa kesabaran yang tanpa batas
sangatlah berbuah manis.
Hari Rabu adalah hari dimana biasanya kita melakukan riyadhah. Aku ajak mereka
untuk jalan-jalan di sekitar Kuttab menikmati lembutnya sinar mentari, melintasi
hamparan sawah hijau yang menyejukkan mata kami.
“Ustadzah Asiyah.. lihat kasihan sekali, ada burung tersangkut di jaring yang dipasang
pak tani.” Kata Ayu sembari berusaha melepaskan jeratan senar yang melilit burung
mungil tersebut.
“Yaa Allah kasihan. Hati-hati ya nak.” Mereka dengan telaten menyelamatkan burung
tersebut sampai akhirnya terlepas dari jeratan senar. Mereka gunting senar yang masih
tersisa di leher.
“Ust.. kasihan lehernya berdarah.” Pekik Lana yang memang sangat
lembut hatinya. Sampai akhirnya mereka pun berhasil mengevakuasi si burung.
“Ustadzah burungnya bisa jalan..” mata mereka berbinar melihatnya.
Mereka kasih air burung tersebut. Mereka sangatlah bahagia, burung mungil temuan mereka betah
hinggap di tangan mereka. Sampai akhirnya burung tersebut pun terbang menuju ke
pohon meninggalkan kami.
“Ustadzah.. pasti burung itu bahagia ya kita selamatkan, dan pasti mendoakan juga
untuk kebahagian kita.”
“Hmm.. kira-kira mendoakan apa ya kak?” kataku.
“Mendoakan kebahagian kita di akhirat ust, karena kita sudah menyelamatkannya,
hehehe.” Ujar Syasya.
Bak seorang pahlawan mereka pun menghela nafas lega.
Maasyaa Allah, selalu terharu mendengar celetukan sederhana dialog iman mereka.
Semoga Allah jaga iman kalian. Tumbuhlah dengan lebih subur lagi dan berbuah
dengan manis dan lebat.
Persahabatan kelas Qonuni 2 muslimah terlihat semakin erat. Tak terasa hampir setahun
waktu kebersamaan dengan mereka. Tibalah saatnya menghantarkan mereka ke jenjang
berikutnya. Di hari akhir kebersamaan kami semua santri berjajar rapi di kelas dengan
senyum manis tersungging di bibir mereka. Mereka mempersembahkan sebuah buket
indah dan sepucuk surat cinta yang akan selalu kukenang.
Puisi itu berjudul
Terima Kasih Guru
Peluh itu, Guru
Kulihatnya seperti biji jagung
Yang memenuhi keningmu
Aku mengerti bahwa itu adalah tanda
Kau membawa, memberi dan menyimpan cinta
Peluh itu, Guru
Kulihatnya berubah menjadi senyuman
Ketika kau melihatku
Aku mengerti bahwa itu adalah tanda
Selaksa kasih
Yang memenuhi jiwamu untukku
Terima kasih Guru
Tak kan kuabai
Kepada setiap tetes keringat
Tak kan ku Massai
Setiap mawar di lisanmu
Guru, Aku mencintaimu.
Bungah hati melihat mereka bertumbuh dan berproses di atas iman dan adab. Sungguh
mendidik itu bukanlah hanya memindahkan isi otak kita. Namun talqiyan fikriyan,
memberikan keteladanan dan menyampaikan cinta. Mencurahkan kasih sayang.
Sebagaimana yang diteladankan oleh baginda Nabi kita tercinta Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam. Semoga Allah senantiasa bombing kita semua. Baarakallahu fiikum.
Ikuti kegiatan kami melalui :
🔍 Website : https://kuttabdaarussalaam.com/
📷 Youtube : https://www.youtube.com/@kuttabdaarussalaam6235/video
📱Instagram :
https://www.instagram.com/yayasanzamzamwannakhla/
https://www.instagram.com/kuttabdaarussalaam_jogja/
https://www.instagram.com/kbhalimahassadiyah/
https://www.instagram.com/rbqdaarussalaam/
https://www.instagram.com/rumahbaca_daarussalaam/
Jazakumullah Khoir ☺🙏