0

Kado Terindah dalam Hidupku

Oleh : Ika Nurvitaningrum

(Juara 3 Lomba Menulis Cerpen Buku Bulan Bahasa dan Sastra 2021)

Pagi itu perutku terasa mulas. Memang sudah saatnya aku akan melahirkan jika dilihat dari jadwal hpl(hari perkiraan lahir). Langsung aku memberi tahu suamiku.

“Mas, sepertinya tidak lama lagi aku akan melahirkan” , ujarku di tengah kesibukan suamiku menata dagangannya.
Kami keluarga kecil dengan dua anak. Anak sulungku berusia 4 tahun dan anak keduaku berusia 2 tahun. Suamiku bukanlah pegawai, beliau hanya mempunyai usaha toko kelontong, tidak begitu besar, hanya meneruskan usaha almarhumah mertuaku. Dengan keterbatasan dana warung itu tetap berjalan meskipun terseok-seok.

“Ya sudah, siapkan segala keperluan”, ujar suamiku.

” baik Mas”, aku menimpali.

Waktu terus berlalu, beranjak sore setelah selesai bersih – bersih rumah dan mengurusi anakku, perutku mulai mules kembali. Aku berdoa semoga kelahiran anak ketigaku ini di waktu malam, agar kami tidak mengajak kedua anakku ke rumah sakit. Maklum, kami tinggal tidak bersama orang tua. Orang tuaku nun jauh di sana, di luar pulau dan mertuaku sudah tiada. Kami tinggal di rumah peninggalan orang tua suamiku.

Tiba-tiba, ces keluar darah segar dan aku merasa ini sudah waktunya. Aku langsung memanggil suamiku, “Mas, mas” ,agak setengah berteriak.

“Iya, sabar tunggu sampai sudah tidak kuat baru kita berangkat”, kata suamiku. ” Kamu kuat kan naik motor?”, suamiku bertanya. “InsyaAllah”, kataku singkat.
Matahari sudah mulai pergi ke peraduan. Tak terasa kumandang azan bergema. Suamiku bergegas pergi ke masjid. Anak anak pun bersorak, ” Bapak ikut”.

Mereka bersegera mengikuti suamiku. Setelah selesai menunaikan sholat isya suamiku menidurkan anak-anakku. Setelah mereka tertidur, kami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Dan anak-anakku kutitipkan kepada tetanggaku. Jika sewaktu-waktu mereka bangun.
Suamiku langsung ke IGD dan mendaftarkan ku di pendaftaran. Aku langsung dibawa ke ruangan bersalin dan dilakukan pengecekan pembukaan oleh bidan. Setelah di periksa tensi dan pembukaan maka aku hanya disuruh menunggu untuk pembukaan lengkap. Setelah dirasa beberapa saat tidak ada penambahan maka diputuskan diberikan untuk obat pemacu. Tak selang seberapa lama perutku semakin mules dan terasa bukaan lahir bertambah. Saat kumandang azan shubuh lahirlah anakku yang ketiga. Sujud syukur suamiku langsung mengabari adik iparku yang bertempat di Magelang.

Di saat hati kami bahagia, ternyata episode baru kehidupan yang sebenarnya dimulai. Setelah menyusui anakku ,dia langsung tertidur. Kejanggalan itu mulai tampak, tapi aku tidak menyadarinya. Setelah beberapa lama kira-kira 3 jam, suster masuk menanyakan apakah bayi
kami sudah menyusu. Aku menggeleng. “Dibangunkan bu, jangan dibiarkan tidur terus”, kata suster. Akhirnya kususui dengan dipaksa. Tetapi aneh, perut anakku semakin membesar seperti kembung. Dan dia tetap tidak bangun. Aku hampir putus asa. Akhirnya anakku diobservasi selama satu hari, di goyang goyang, dibangunkan, tetap saja tidak bangun. Dan yang lebih membuatku semakin curiga anakku tak kunjung buang air besar. Akhirnya anakku di ambil darahnya dan dimasukkan di ruangan khusus. Bahkan saat diambil darahnya bayiku tetap tidak menangis. Ya, Allah ada apa ini, ujarku dalam hati. Maka dokter anak yang mengobservasi bayiku mendatangiku. “Bu, anak ibu mengalami kelainan, maka sebaiknya dirujuk ke rumah sakit Sarjito, dan harus malam ini dibawa kesana”, dokter itu berkata pelan kepadaku. Ya Allah, serasa dunia terasa sempit, ada apa ini. Sambil membawa bayiku ke ambulan yang sudah disiapkan, aku hanya bisa menangis. Suamiku menguatkanku.

Akhirnya kami sampai di instalasi gawat darurat Sardjito. Ternyata tidak hanya bayiku yang sakit, banyak bayi-bayi lain yang juga sakit. Setelah menjawab beberapa pertanyaan, aku disuruh menunggu di luar. Sedangkan suamiku mengurus berkas-berkas yang diperlukan.
Di luar, aku menangis sambil menahan sakit karena ASIku yang tidak dikeluarkan. ” Kenapa aku ya Allah? Kenapa anakku?”. Aku menangis dan memandang ambulan yang terus datang dan pergi silih berganti. Apakah aku banyak dosa sehingga harus menerima ini semua, pertanyaan – pertanyaan itu terus menghantuiku. Suamiku tidak bisa bekerja karena harus mendampingiku di rumah sakit. Aku hanya bisa pasrah. Akhirnya suamiku menemuiku dan mengajakku ke ruangan yang nantinya bayi kami dirawat. Ternyata ruangan itu bernama NICU. Dan aku hanya bisa beristirahat dengan beralaskan tikar tipis dengan kondisi kedinginan karena AC yang begitu dingin.
Episode baru dalam hidupku akan segera dimulai. Tetapi aku yakin Allah bersamaku. Dan kuyakin setelah kesulitan pasti ada kemudahan.

-Selesai-

IT Kuttab Changed status to publish Januari 30, 2022